Khotbah Jumat di Masjid Khulafaur Rasyidin, Ketua PA Waingapu Bahas Persamaan Derajat

Khotbah Jumat di Masjid Khulafaur Rasyidin, Ketua PA Waingapu Bahas Persamaan Derajat

20241206 Khotbah 01

Sumba Timur ǀ www.pa-waingapu.go.id

Ketua Pengadilan Agama (PA) Waingapu, H. Fahrurrozi, SHI., MH. menyampaikan khotbah di Masjid Khulafaur Rasyidin Kanatang Sumba Timur, Jumat (6/12/2024). Khotbah tersebut membahas persamaan derajat di antara manusia.

Orang nomor satu di PA yang wilayah hukumnya mencakup seluruh Kabupaten Sumba Timur itu menjelaskan bahwa manusia hidup di dunia ini harus saling menghormati dan saling menghargai, tidak boleh menghina, merendahkan dan mengolok-olok orang lain.

Dikutipkan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat Ayat 11 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)”.

Ditambahkannya, manusia itu tidak seharusnya membangga-banggakan diri, menyombongkan asal usulnya, kasta atau golongannya, dan saat yang sama menghina dan mencela yang lain. Sebab sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat Ayat 13, sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

“Tidak ada bangsa tertentu yang lebih mulia dibandingkan bangsa yang lain. Tidak ada suku tertentu yang lebih Istimewa dibandingkan suku yang lain. Di mata Allah, semua manusia sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaan. Manusia yang paling bertakwa itulah yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah,” terangnya.

Lebih lanjut, Ketua PA Waingapu mengutip Hadits Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang asing. Orang kulit putih tidak lebih agung dibandingkan orang kulit hitam.

Begitu pun dalam Hadits yang lain, sambungnya, Nabi SAW bersabda bahwa Allah tidak memandang kepada bentuk tubuh manusia dan tidak pula memandang harta, tetapi memandang kepada hati dan amal perbuatan manusia. “Untuk apa punya uang banyak tapi tidak punya hati, tidak pernah tersentuh hatinya untuk bersedekah. Ketika ada pembangunan masjid, pembangunan madrasah atau santunan fakir miskin, hatinya tidak tergerak,” ujarnya.

Menurutnya, tolok ukur untuk menentukan kemuliaan seorang manusia di mata Allah itu bukan karena fisiknya yang gagah perkasa atau kulitnya putih, bukan karena harta kekayaannya atau jabatan dan pangkat, dan bukan karena asal usul (keturunan). Akan tetapi, karena ketakwaannya, dan orang yang bertakwa itu terefleksikan dalam keluhuran budi pekertinya.

“Karena itu, bagi yang punya jabatan terhormat, pangkat tinggi, ketika hidup di tengah masyarakat, jangan merendahkan orang-orang yang tidak punya pangkat dan jabatan. Apapun profesi orang, kita harus menghormatinya. Di kantor juga begitu, jangan mentang-mentang pejabat tinggi lalu memandang rendah pegawai-pegawai biasa atau yang jabatannya rendah. Hargailah mereka sebagai manusia! Ingatlah bahwa mereka itu orang-orang yang menjadi kebanggaan keluarganya, dibanggakan oleh istri dan anak-anaknya!” pesannya.

Ketua PA Waingapu kemudian mengutip kata-kata Pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara, Sam Ratulangi yang berbunyi, “Sitou Timou Tumou Tou”, artinya manusia baru disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. (sam)

Scroll to Top